Bantara Pramanda 2018

Kebumen (21/3/18) – Dengan tema “Berbudi Luhur Berjiwa Perkasa Menuju Pramanda Yang Berakhlak Mulia”, Kemah Pelantikan Bantara Gudep 71-72 Pangkalan MAN 2 Kebumen dilaksanakan di Desa Pejagatan, Kutowinangun. Kegiatan ini dilaksanakan selama 3 hari 2 malam, Ahad s.d. Selasa (18/3/18 – 20/3/18).

Perkemahan ini diikuti oleh 500 peserta. Dewan Pramuka MAN 2 Kebumen tahun 2017/2018, Dewan Pramuka MAN 2 Kebumen tahun 2016/2017, Pembina dan tamu undangan, alumni MAN 2 Kebumen, perwakilan OSIS, PMR, PKS, PIK-R dan Irmas berjumlah 100 peserta sedangkan 10 peserta lainnya adalah perwakilan Dewan Pramuka dari SMKN 1 Kebumen, SMKN 2 Kebumen, MAN 1 Kebumen, MAN 3 Kebumen dan SMK Nawa Bhakti. Adik-adik Pramanda berjumlah 390 terbagi dalam 39 sangga dan 10 ambalan. Sangga putra berjumlah 11 sangga dan sangga putri berjumlah 28 sangga.

Kegiatan pemberangkatan peserta dari madrasah pk 07.00 WIB pada hari Ahad (18/3/18). Pk 09.00 WIB peserta sudah berada di bumper dan langsung mendirikan tenda. Di bumper berdiri 39 tenda adik, 2 tenda sekretariat, 1 tenda pembina dan 4 tenda pengawas di sudut-sudut lapangan.

Hari pertama pelantikan Bantara diisi dengan kegiatan lomba pionering bersamaan dengan mendirikan tenda. Kegiatan lomba kembali dilanjutkan setelah ishoma, pk 13.00 WIB, antara lain LCTP, LBB dan lomba busana alam. Saat itu LCTP hanya sampai babak penyisihan. Babak finalnya dilakukan pada malam harinya. Upacara pembukaan Bantara dilaksanakan pada sore hari sekitar pk 16.00 WIB. Bertindak sebagai pembina upacara adalah Kak Akhmad Makhsus.

Kebutuhan air untuk mencuci, mandi dan keperluan lainnya disediakan oleh warga sekitar. Peserta bisa menggunakan sumur atau kamar mandi di rumah-rumah warga yang ditentukan oleh panitia. Panitia bekerja sama dengan pemangku desa, kelompok pemuda desa setempat dan sekolah dasar dalam menyediakan air bersih dan tempat ibadah untuk peserta. Pada perkemahan tahun ini, air bersih banyak tersedia di sekitar bumper.

“Akses air bersih di perkemahan kali ini lebih mudah dan melimpah,” kata Kak Nurkholik.

Hari kedua pelantikan Bantara diisi dengan wide game, big game, mujahadah dan api unggun. Wide game yang dimulai pk 08.00 WIB terbagi dalam 10 pos di sekitar bumper. Pos-pos terbagi menjadi pos pemberangkatan, keagamaan, PU, PBB, Kim, halang rintang, sandi, menaksir lebar sungai dan pos pemberhentian terakhir. Lintasan Wide game Bantara kali ini lebih panjang dari tahun sebelumnya.

“Tahun ini lintasannya lebih panjang dan medannya dibuat naik turun,” kata Kak Baha.

Big game dilaksanakan setelah ishoma, pk 13.30 WIB. Kegiatannya berupa lomba tarik tambang dan lomba memindahkan koin dari tampah penuh tepung. Masing-masing lomba diikuti oleh perwakilan tiap-tiap ambalan. Kegiatan selesai pk 16.00 WIB dan dilanjutkan ishoma dan MCK.

Kegiatan malam hari dimulai dengan sholat Maghrib berjama’ah di lapangan. Peserta tidak meninggalkan tempat sholat untuk mengikuti mujahadah dan mendengarkan tausiyah dari Kak Wim Tribusono. Kegiatan ini berjalan hingga sholat Isya.

Kegiatan Api Unggun terbagi dalam 2 acara yakni upacara dan pentas seni. Bertindak sebagai pembina upacara adalah Kak Akhmad Makhsus. Sepuluh adik dipilih untuk membawakan 10 obor yang dibawa ke tengah lapangan mengelilingi kayu-kayu yang disusun seperti kerucut. Secara bergantian, adik mengikrarkan Dasadharma lalu menyalakan susunan kayu-kayu tersebut bersama-sama.

Pada sambutannya, Kak Makhsus menjelaskan tentang api yang menjadi bagian dari upacara. Menurutnya, upacara api unggun itu bukan bentuk penyembahan (pada api) melainkan hanya sebagai simbol yang mana api adalah zat memiliki banyak manfaat. Beberapa manfaat antara lain untuk menerangi malam yang gelap dan menghangatkan hawa yang dingin. Kak Makhsus juga menambahkan agar peserta menjalankan kegiatan dengan senang dan gembira. Di akhir sambutannya, Kak Makhsus meminta agar Dasadharma yang sudah diikrarkan tidak hanya menjadi hafalan saja tetapi harus bisa diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Dasadharma jangan hanya dihafalkan, tapi harus diterapkan, diimplementasikan dan diinternalisasikan oleh setiap anggota Pramuka,” tegasnya.

Pk 21.00 WIB acara pada malam itu diisi dengan penampilan pentas seni dari masing-masing ambalan. Sayangnya, pada kegiatan ini tidak bisa ditampilkan seluruhnya karena hari mulai malam. Acara api unggun menjadi daya tarik tersendiri bagi warga masyarakat sekitar. Banyak warga yang hadir dan banyak pula pedagang yang menghiasi jalan dengan lampu kelap-kelip. Kegiatan ini hampir seperti pasar malam. Meski begitu, suasana upacara api unggun tetap berjalan hikmat dengan nyala lilin dan lentera di sekitar bumper hingga api utama menyala.

Hari ketiga pelantikan diisi dengan pengambilan tanda Bantara dan bakti sosial. Pengambilan tanda Bantara dilaksanakan pada pk 02.00 WIB. Kakak dewan membangunkan adik dan membuat barisan di lapangan. Adik-adik dengan mata tertutup slayer berjalan beriringan dipandu oleh kakak dewan. Mengikuti instruksi dewan ada yang jalan merunduk, melompat, jongkok dan berputar-putar. Kakak juga menguji hafalan Dasadharma dan Trisatya adik-adik. Bukti kelulusannya adalah tanda Bantara yang disematkan di baju adik. Adik pun berlari mengelilingi lapangan dengan meneriakkan “Saya mendapatkan Bantara! Saya mendapatkan Bantara!”. Kegiatan ini berakhir pk 04.00 WIB dan dilanjutkan sholat Subuh berjama’ah.

Setelah matahari terbit, adik-adik mengikuti senam pagi dan dilanjutkan dengan MCK. Hari terakhir ini diisi dengan bakti sosial sebelum tenda dibongkar. Bentuknya berupa pembagian perlengkapan sholat untuk tempat ibadah, pembagian sembako pada warga sekitar yang digunakan untuk MCK dan kerja bakti membersihkan lingkungan sekitar bumper.

Upacara penutupan dilaksanakan pk 09.00 WIB. Bertindak sebagai pembina adalah Kak Wachid Adib. Dalam sambutannya, Kak Adib menyampaikan betapa besar manfaat dari gerakan kepanduan dalam membina karakter sehingga di Kurikulum 2013 ini Pramuka menjadi muatan wajib bagi peserta didik. Kak Adib juga memberi apresiasi dan terima kasih yang tinggi pada panitia, pembina, juga masyarakat sekitar bumper yang telah membantu terselenggaranya kegiatan ini. Di akhir sambutannya, Kak Adib berharap kegiatan ini dapat melahirkan generasi yang mandiri, tak kenal mengeluh dan terampil.

“Semoga perkemahan Bantara ini melahirkan generasi yang mandiri, tak kenal mengeluh dan terampil,” harapnya.

Setelah kegiatan ditutup oleh Kak Adib, pemangku adat putra dan putri menandai dengan acara adat. Menggunakan jubah dan ikat kepala serba putih, pemangku adat ke tengah lapangan untuk melepas parang yang menancap pada batang pisang menandai bahwa perkemahan Bantara 2018 telah selesai.

Pk 11.00 WIB peserta sudah kembali di madrasah. Perkemahan Bantara ini menjadi pengalaman yang berharga bagi adik yang hanya sekali (menjadi adik) mengalaminya. Sambil malu-malu, Damar mengatakan bahwa kegiatan ini sangat menyenangkan dan meningkatkan kemandirian peserta.

“Kegiatannya menyenangkan karena waktunya terjadwal dengan baik. Jadi lebih mandiri,” katanya.

Pada kesempatan lain, senada dengan Damar, Naufal juga menambahkan bahwa selain meningkatkan kemandirian, juga mempererat pertemanan, menambah pengalaman dan wawasan peserta.

“Pertama mendapat kemandirian, kedua mendapat teman dan ketiga menambah pengalaman dan pengetahuan,” jelasnya.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *