Lomba Menghias Tumpeng dan Lomba Memancing

Kebumen (28/04/18) – Kegiatan memperingati harlah MAN 2 Kebumen masih berlangsung hingga hari ini, Sabtu (28/04/18). Meski bukan acara puncak, tetapi hari ini masih diramaikan dengan kegiatan lomba-lomba antar kelas seperti Lomba Menghias Tumpeng dan Lomba Memancing. Ada 22 peserta (kelas X dan XI) yang memperebutkan juara.

Kedua kegiatan tersebut dilaksanakan bersamaan. Lomba Menghias Tumpeng dilaksanakan di lapangan bulu tangkis sedangkan Lomba Memancing dilaksanakan di depan ruang kelas XII IPS 6. Kolam berukuran sekitar 4 x 4 meter persegi diisi ikan lele dengan berbagai ukuran.

Untuk Lomba Menghias Tumpeng, setiap kelas mengirimkan 3 perwakilan terdiri dari 2 putra dan 1 putri. Peserta putri bertugas memberi instruksi pada peserta putra segala sesuatu yang harus disiapkan dan disajikan. Kedua tangan peserta putri diharuskan diikat ke belakang untuk meminimalkan kecurangan. Penilaian dilakukan oleh 4 juri, 3 diantaranya berasal dari anggota OSIS dan didampingi oleh 1 orang Guru.

Salah satu juri bernama Dina menjelaskan, nasi tumpeng yang disajikan adalah nasi kuning dengan garnish berupa sayur-sayuran atau telur dan bukan berbahan daging, semisal daging ayam atau daging sapi. Akan tetapi, jika peserta menambahkan abon dalam hiasannya, maka masih diperbolehkan.

“Hiasannya tidak boleh pakai daging, seperti ayam atau sapi. Tapi kalau pakai abon, diperbolehkan,” jelas Dina.

Nasi kuning dan bahan garnish disediakan dari rumah sedangkan penataannya dilakukan di madrasah. Meski aturannya begitu, masih saja ada peserta yang sudah menata garnish dari rumah. Dina menjelaskan bahwa hal seperti itu mengurangi penilaian. Ia menambahkan bahwa penilaian dilakukan pada 4 aspek yaitu, kesesuaian dengan tema harlah, garnish, kebersihan dan kerapian dalam menghias tumpeng dan makna pada hiasan yang ditulis pada selembar kertas.

“Bahan-bahan dari rumah akan ditata setelah berada di madrasah, termasuk mencetak nasi kuning dengan cetakan. Kalau ada yang sudah ditata dari rumah, bisa mengurangi penilaian karena salah satu penilaian adalah proses menghiasnya,” jelas Dina.

Kesesuaian dengan tema harlah ditunjukkan salah satu peserta lomba dengan mencetak tumpeng kelas mereka menggunakan cetakan berbentuk hati yang melambangkan cinta. Dijumpai pula di kelas lain yang menghias sekeliling tumpeng dengan kacang panjang yang dianyam yang melambangkan kebersamaan.

Untuk membuat tumpeng, rata-rata kelas menghabiskan dana sebesar Rp 100.000,- yang diambil dari kas kelas masing-masing. Setelah penyajian dan penilaian, nasi tumpeng akan dinikmati di kelas masing-masing. Rasa dan biaya tidak masuk dalam kriteria penilaian.

Lomba Memancing mengharuskan masing-masing kelas diwakilkan oleh 2 peserta. Salah satu menyiapkan kail dan umpan, peserta lainnya bersiap memancing di sekitar kolam. Senar dan mata pancing dirangkai sendiri oleh peserta. Karena jumlah peserta yang banyak sedangkan kolam pemancingan relatif kecil, maka perlombaan dibagi dalam 2 sesi. Setiap sesi diberi waktu selama 30 menit.

“Lomba dibagi dalam 2 sesi. Masing-masing dibatasi 30 menit,” kata Wildan.

Menurut Naufal, kriteria penilaian dikelompokan dalam 2 jenis. Pertama adalah bobot lele terbesar dan kedua adalah banyaknya lele yang terpancing. Pada lomba ini, yang berhasil mendapatkan lele terbesar adalah kelas XI IPA 3 sedangkan jumlah lele terbanyak dimenangkan oleh kelas X IPS 4.

“Pemenangnya ada 2 kategori. Pertama yang mendapat lele paling besar, kedua yang dapat lelenya paling banyak,” kata Naufal.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *